Langkah di Balik Lensa

25 Aug 2026 Administrator 4 views
Langkah di Balik Lensa
Suara riuh koridor SMA Pelita Bangsa mendadak senyap bagi Bagas begitu ia melangkah masuk ke ruang mading. Di tangannya, sebuah brosur kompetisi fotografi tingkat nasional terlipat rapi. Bagas tahu, ini adalah kesempatan emasnya. Namun, ia juga tahu ada tembok besar yang menghadangnya: ekspektasi sang ayah yang menginginkannya masuk jurusan hukum.
"Kamu melamun lagi, Gas?" suara petikan gitar mengagetkannya. Itu Rian, sahabatnya sejak SMP, yang sedang duduk santai di atas meja ruang mading.
Bagas menghela napas, lalu menyodorkan brosur itu. "Aku ingin ikut ini, Yan. Tapi kamu tahu sendiri, kamera ini saja hasil menabung dua tahun, dan Ayah masih menganggap foto-fotoku cuma buang-buang waktu."
Rian meletakkan gitarnya. Ia menatap Bagas dengan serius. "Gas, kamera itu benda mati. Dia baru punya jiwa kalau ada di tangan orang yang tepat. Dan aku tahu, jiwa foto-fotomu itu hidup. Kenapa enggak kamu buktikan dulu lewat lomba ini? Kalau menang, Ayahmu pasti melek."
Kata-kata Rian malam itu terus berputar di kepala Bagas. Dengan sisa keberanian yang ada, ia memutuskan mendaftar. Tema lomba kali ini adalah “Sisi Lain Kota”.
Seminggu suntuk setelah pulang sekolah, Bagas berkeliling sudut kota. Ia melewati pasar tradisional yang mulai sepi, lorong-lorong gang tua, hingga proyek pembangunan yang tak kunjung usai. Rian setia menemani, kadang menjadi model dadakan atau sekadar memegangkan botol minum.
Hingga di hari terakhir pencarian objek, Bagas melihat seorang kakek penjahit sepatu tua di bawah jembatan layang. Kulit keriputnya kontras dengan binar matanya yang fokus memasukkan benang ke jarum besar. Di sudut lain bingkai, ada bayangan gedung pencakar langit yang megah.
Cekrek. Bagas tahu, ia baru saja menangkap sebuah cerita, bukan sekadar gambar. Foto itu diberi judul “Menjahit Harapan di Bawah Kemegahan”.
Dua minggu berlalu dalam kecemasan. Sore itu, sebuah email masuk ke ponsel Bagas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Selamat, Bagas Aditya. Karya Anda terpilih sebagai Juara 2 Kategori Remaja Nasional.
Bagas terpaku. Air matanya hampir menetes. Ia langsung berlari pulang, mengabaikan ajakan Rian untuk merayakannya di kedai es krim seberang sekolah.
Di meja makan malam itu, Bagas meletakkan ponselnya yang menampilkan surat pengumuman resmi dan foto pemenangnya di hadapan Ayah. Suasana mendadak hening. Ayahnya memakai kacamata, membaca teks tersebut berulang kali, lalu menatap foto karya Bagas cukup lama.
"Ayah tidak pernah tahu kamu bisa melihat dunia dengan cara seperti ini, Gas," ucap Ayah, suaranya melunak. Tidak ada amarah. Hanya ada rasa takjub yang tertahan. "Maafkan Ayah yang selama ini hanya melihat dari satu sudut pandang."
Bagas tersenyum lega. Di luar jendela, malam terasa lebih hangat. Ia tahu perjalanannya masih panjang, dan jurang antara keinginannya dan ekspektasi orang tua belum sepenuhnya hilang. Namun setidaknya, malam ini, Bagas berhasil membuktikan bahwa dunianya yang dilihat dari balik lensa adalah dunia yang nyata dan layak untuk diperjuangkan.


Bagikan: